Menjadi fotografer yang baik


Akhir-akhir ini perkembangan dunia fotografi berkembang dengan pesat. Hal ini selain ditandai dengan semakin bermunculannya perlengkapan teknologi pemotretan (kamera) dengan kecangihan dan kemudahannya. Sangat monumental adalah tampilnya kamera digital dengan berbagai bentuk yang menawarkan kemudahan dalam pemotretan.
Perkembangan dunia fotografi juga tidak terlepas dari timbulnya kesadaran masyarakat akan pentingnya suatu dokumentasi foto dalam berbagai kehidupan. Ini bisa dilihat hampir setiap ada acara, selalu ada fotografer yang mengabadikan kegiatan
tersebut. Walaupun perkembangan peralatan memotret tumbuh subur dan berganti-ganti setiap saat, namun hasil akhir yang diharapkan dari suatu karya fotografi adalah foto yang sempurna. Artinya, foto tersebut gambarnya terang, fokus, komposisinya harmonis dan tidak ada cacatnya. Untuk mendapatkan karya foto berkualitas, tidak semua orang bisa membuatnya, karena itu kehadiran fotografer dalam berbagai event sangat penting dan diperlukan. Melihat begitu strategisnya kehadiran fotografer dalam berbagai acara itu, maka bagi mereka yang ingin menekuni fotografi sebagai profesi, tidak perlu ragu untuk melangkah dan merintisnya, karena peluang untuk berusaha dan mengembangkan diri sangat terbuka. “Kalau hasil karya foto kita baik, kita tidak akan sulit mendapatkan order pemotretan, karena klien akan datang dengan sendirinya minta untuk dipotret” kata Darwis Triadi sambil menambahkan, “Dengan demikian, fotografi sebenarnya bisa dijadikan profesi dan sandaran hidup.” Diingatkannya juga oleh Darwis Triadi, untuk merintis menjadi fotografer handal, apalagi ingin menjadikan sebagai profesi, perlu ketekunan, kerja keras dan belajar secara terus menerus. Nah, bagi Anda yang berminat menjadi fotografer, setidaknya ada delapan kiat yang dihimpun dari berbagai sumber ini bisa dijadikan acuan.

  • Pertama, tetapkan dan kembangkan minat. Adanya tekad yang kuat untuk menjadi fotografer sebagai profesi utama sangat penting ditumbuhkembangkan dalam diri seseorang. Cara paling efektif untuk mengembangkan minat adalah dengan membaca buku-buku panduan fotografi dan kisah tokoh-tokoh fotografer terkenal, serta bergaul dengan pemotret lainnya. Dengan cara ini diharapkan, minat menekuni fotografi tidak pupus ditengah jalan.
  • Kedua, pantang menyerah. Tantangan paling berbahaya yang dapat menjatuhkan minat seseorang menekuni fotografi menjadi pupus adalah, ketika pemotret belum bisa menghasilkan karya foto yang baik. Jika beberapa kali Anda belum bisa menghasilkan gambar yang baik, bahkan mungkin dicela orang yang melihatnya, jangan cepat menyerah dan tidak mau lagi memegang kamera dan belajar memotret. Dalam dunia potret-memotret tidak ada yang sekali jadi atau langsung berhasil. Semua perlu waktu dan proses. Yang penting mau belajar dan terus berlatih. Jika ini dilakukan, cepat atau lambat, karya foto yang baik hanya masalah waktu dan pasti dapat dihasilkan.
  • Ketiga, tidak cepat bosan. Bagi mereka yang baru belajar potret-memotret, adakalanya rasa bosan dan jenuh menyelinap di dalam hati, apalagi jika hasil pemotretan belum juga memuaskan. Rasa bosan merupakan hal yang wajar, asal jangan sampai terlalu lama. Jika rasa bosan dibiarkan, dikhawatirkan dapat merusak minat dan tekad anda menjadi fotografer. Untuk mengatasi rasa bosan, lakukan kegiatan yang bisa memicu dan menumbuhkan semangat, seperti berburu foto sambil rekreasi, melihat pameran foto dan tentunya tetap teguh pada tekad ingin menjadi fotografer.
  • Keempat, belajar dan berlatih. Minat dan tekad saja belum cukup mengantarkan seseorang menjadi fotografer. Ketrampilan fotografi baru bisa dikuasai jika seseorang mau secara serius mempejari dasar-dasar dan seluk-beluk dunia fotografi itu sendiri. Walaupun saat ini seseorang bisa dengan mudah melakukan pemotretan dengan kamera digital, namun masalah apa itu diafragma dan penggunaannya, kepekaan film, teknik pencahayaan, komposisi gambar dan hal-hal mendasar lainnya, harus dipelajari dan dikuasai. Hal ini sangat penting sebagai bekal pengetahuan dan ketrampilan bagi seseorang yang menekuni fotografi. Dengan penguasaan dasar-dasar fotografi, diharapkan seseorang tidak saja mampu menghasilkan gambar yang baik, tetapi juga bisa mengatasi permasalahan di lapangan ketika akan melakukan pemotretan. Misalnya minimnya pencahayaan, pemotretan bergerak dan lain-lain. Cara mudah untuk mengetahui apakah kemampuan seseorang dalam potret-memotret sudah ada kemajuan atau belum adalah, dengan memotret suatu subjek beberapa kali dengan teknis pemotretan berbeda. Jika hasil pemotretan baik, berarti sudah ada kemajuan yang berarti. Tetapi, jika masih ada beberapa gambar yang jelek, kemampuian memotret masih perlu diasah, karena hasil pemotretan belum konsisten atau baik semua.
  • Kelima,menentukan jalur kepeminatan. Walaupun dalam suatu pemotretan, teknis memotret suatu subjek dengan subjek lainnya tidak berbeda jauh, dan tidak sulit bagi fotografer profesional untuk memotretnya, namun karena luasnya bidang garapan fotografi (foto model, foto iklan, foto jurnalistik, foto wisata, foto perkimpoian, dan lainnya) disarankan agar para pemotret menentukan kepeminatannya. Hal ini sangat penting, karena di dalam dunia fotografi profesional, sangat jarang seseorang mau menjadi fotografer general (subjek apa saja mau dipotret), tetapi lebih banyak memilih profesional atau spesialisasi di dalam pemotretan subjek tertentu.Untuk menentukan peminatan, sebaiknya dilakukan secara alami saja dan jangan dilakukan pada awal-awal belajar.Tujuannya adalah, agar seseorang mempunyai wawasan dan pengalaman yang banyak serta mengetahui lebih jauh seluk beluk memotret berbagai subjek.Dalam proses perjalanan waktu dan pengalaman memotret, seseorang akan bisa — dan harus — menentukan jalur peminatan pemotretan apa yang dia pilih. Dengan cara ini pemotret tidak akan menjadi fotografer general, tetapi profesional.
  • Keenam, perlengkapan kamera. Seiring dengan kemampuan dan kebutuhan dalam melakukan pemotretan, sebagai fotografer profesional, perlengkapan pendukung kamera secara bertahap harus dilengkapi. Hal ini selain menunjukkan bahwa Anda memang fotografer profesional, juga untuk memudahkan dalam menghasilkan karya foto berkualitas.
  • Ketujuh, komersialisasi karya foto. Seiring dengan perjalanan waktu, pengalaman memotret, dan kemampuan menghasilkan karya foto yang baik, maka jika semula gambar-gambar yang dihasilkan hanya dijadikan koleksi pribadi/keluarga, sekarang sudah saatnya anda belajar mengkomersilkan hasil karya anda. Komersialisasi karya foto ini sangat penting, karena selain sudah menjadi minat dan tekad ingin menjadikan fotografi sebagai profesi, juga untuk menguji dan mendapatkan umpan balik sudah sejauhmana penghargaan terhadap karya-karya anda  dihargai.
  • Kedelapan, manajemen diri. Seiring dengan profesi yang disandang, yaitu sebagai fotografer, maka Anda pun harus bisa mengatur dan mengelola segala sesuatunya dengan baik. Untuk ini, manajemen diri yang profesional harus benar-benar dijalankan. Misalnya membuat dan menepati janji pemotretan atau penyerahan foto, cara berpakaian dilokasi pemotretan, sikap, etika dan lainnya pula diperhatikan dan diberikan sebaik-baiknya, sehingga dapat memberikan kepuasan klien yang dipotret.

source : aya30.student.umm.ac.id/…as…/umm_blog_article_102.pdf

I Love You – 2ne1 Song Lyrics

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s